Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Teteh Titiem Si May

Matahari masih baru saja akan melebarkan senyumnya, aku baru saja bangun dari tidurku. Kulihat jam dinding dikamar menunjukkan pukul 04.00 menit. Ku rapikan kamarku, segera aku mengambil air wudhu dan kemudian menyambut pagi dengan beragam aktivitas seperti biasanya.. Jangan sampai deh aku bangun tidur lebih dari jam 5, bisa-bisa ibuku marah-marah.



Katanya “Perawan-perawan gak apik tangi
padang, rezekine didisi’I pithik” artinya kalau masih gadis gak baik bangunnya kesiangan, nanti rezekinya di dului ayam, Begitu. Kulangkahkan kaki menuju dapur ,Ya didapurlah tempat terindah dimana aku bisa belajar, berbagi ilmu, bercerita dan tertawa bersama ibu setiap pagi dan setiap hari menyajikan beragam kreasi-kreasi masakan baru.

Memiliki ibu yang cerewet terkadang memang tidak mengasyikkan, tiap melakukan ini itu yang gak bener pasti deh jurusnya langsung keluar. Ngomel terus.. gitu. Tapi ibuku beda dengan wanita yang lain, dia amat perhatian pada keluarga dan anak-anaknya. Pagi ini menu yang disajikan tidak begitu berat. Yaitu bergedel kentang dan tumis yang terdiri dari brokoli, buncis, wortel, jamur tiram di campur potongan telur dadar. Menu kreasi ibuku sendiri yang rasanya sangat nikmat. Terus di tambah kerupuk udang dan tak lupa pula sambal cabe rawit yang nendang-nendang lidah andalan keluarga.

Selesai bantu ibu memasak, aku mencari kesibukan lain. Dimeja kamar handphoneku berdering, bukan sebuah panggilan masuk. Tapi sebuah pesan dingkat dari Andika yang menanyakan tentang pernikahan Ella. Andika adalah kekasih hati Dilla yang penuh dengan perhatian dan kesabaran. Dia sudah bekerja disebuah Bank yang ternama di daerahnya. Usianya berpaut hanya tiga tahun lebih tua dari Dilla.

Tiba-tiba kudengar pintu kamarku diketuk dengan cepat.

“Tok… tok… mbak Dilla, mbak buka pintunya”, suara dari depan pintu kamar yang sontak mengagetkan itu.

“ya, sebentar” sapa Dilla ramah. Suara itu adalah suara Naya yang sepertinya lagi bahagia. “waduh, kok sudah rapi, memangnya mau kemana dek?” Tanya Dilla lagi. Naya adalah saudara Dilla ,Neneknya Naya itu adalah adik dari nenek Dilla.

“Gak kemana-mana mbak,” jawab Naya malu-malu ini ada titipan pengetikan dari Bu Erni. Nanti malam diambil, katanya penting. Bisa kan mbak?

“Ow, coba aku lihat dulu ya.” Okey deh nanti akan aku selesaikan.

Kemudian Naya berpamitan dan berlalu meninggalkan tumpukan kertas yang harus segera diselesaikan. Itu adalah kumpulan kata-kata berbahasa Inggris milik Bu Erni, Guru bahasa Inggris. Tepatnya lagi adik dari ibunya Naya. Kemaren malam memang sudah menelpon Dilla, tapi belum sempat mengantar garapan lantaran si Dio anaknya yang berumur 3 tahun demam tinggi.

Yah bagaimana lagi, itulah resiko menjadi operator warnet. Keluh Dilla diam-diam.

***

Ditempat kerja

Cuaca hari ini panas, tapi tak membuat Dilla putus semangat menunjukkan kelincahannya memainkan jemari tangannya yang lentik itu di atas keyboard di depan computer. Gadis berkaca mata ini sungguh sangat cantik dan kian lemah lembut, dia memang jarang berbicara, tapi sungguhpun dibalik kediamannya itu dia memiliki bakat-bakat yang kerap kali mengagetkan. Kali ini dibiarkannya rambut yang hitam panjang itu terurai lembut bersama angin. Dan dia tetap tampak anggun. Begitulah dia kesehariannya, bekerja bersama pamannya dan dipercaya untuk menjaga beberapa computer di warnet pamannya.

Dilla nampaknya sangat menyukai pekerjaannya, karena dari pekerjaannya itu dia bisa memiliki banyak teman, ilmu baru dan semuanya yang belum pernah dia dapatkan dikehidupan nyatanya. Dia sangat menikmati kesehariannya itu.

“Eh, ada sms masuk”, suara dari handphone milik Dilla. Dibukanya pesan singkat itu. Ternyata dari Naya.

“mb’, Edo blng low dia sk ma q. q hrs gmn donk?” lz. Artinya “mbak Edo bilang kalau dia suka sama aku. Akau harus bagaimana?” begitu singkat dan sontak buat Dilla tertawa.

Gimana gak ketawa, karena Naya itu memang belum pernah merasakan jatuh cinta. Dia memang menyukai Edo, tapi sepertinya dia masih malu-malu dan belum seratus persen yakin pada perasaannya itu. Tapi nggak nyangka juga ternyata kalau Edo suka sama Naya. Waduhh benar-benar rezeky deh, guman Dilla lirih dalam hatinya.

Karena setahu Dilla, Edo juga pribadi yang tidak mengecewakan. Dalam arti dia itu berprestasi dan memiliki watak yang jika digabungkan dengan watak Naya yang sedikit dingin itu tidak terlalu berbenturan. Edo selalu ceria dan memiliki nilai humoris yang tinggi. Yang jika kita berada disampingnya kita pasti akan dibuat ngakak tak bertema.

Diusia Naya yang memasuki usia 21 itu memang sudah sewajarnya dia mendapati pilihan hatinya. Karena Naya juga sudah dewasa dan berhak memilih dan menentukan mana yang terbaik buat dirinya sekarang dan nanti.

“Cie,, cuit-cuit.pucuk dicinta ulam pun tiba” begitulah balasan dari Dilla, cukup singkat. Tapi Naya mengerti apa maksud dari sms sepupunya tersebut.

Lantas Dilla meneruskan penulisan kalimat-kalimatnya pada kiriman pesan yang kedua :

“jika kamu merasa dia yang terbaik buat kamu, yang benar-benar ada bersama untuk berbagi hati beramamu, dan kamu yakin dia adalah pilihan yang terbaik untuk sekarang dan nanti. Aku gak bisa memberikan apapun, karena yang terbaik buat kamu sekarang adalah apa yang kamu butuhkan dan kamu rasakan”.oc, aku yakin kamu bisa memutuskan. Selamat berbahagia ya adik.””

“” hehe,,, terimakasih mba’ ya.semoga keputusanku ini adalah yang terbaik buat aku dan dia, amien,,,”. Balas Naya

“yupz… ”

Inilah untuk kali pertamanya Dilla mendengar pengakuan dari Naya, setelah sekian lama diam tanpa suara. Dilla senang mendapati saudaranya sekaligus sahabatnya itu jatuh cinta. Sahabat terdekat yang dimilikinya, yang selalu bisa berbagi dengannya saat senang dan sedih sekalipun. Dia selalu ada, bercanda, bertengkar, berbagi dan hampir semuanya selalu terbuka dengannya.

Selain Andika yang memang selalu hadir bagai malaikat peneduh dihatinya. Dilla kembali teringat memory lama yang selalu di update setiap hari diotaknya, dimana itu adalah masa-masa pertama kali dia berpacaran dengan Andika, teramat indah dan tidak dapat dilupakan. Karena Andika adalah cinta pertama yang benar-benar bisa menjaga hati, yang bisa menghadirkan suasana yang segar sepanjang waktu ketika bersamanya. Dilla kembali tersenyum malu…

“Mungkin perasaan bahagia Naya sama seperti bahagiaku dulu dan sampai sekarang aku rasakan”. Hehe,,, bayang dilla sendirian, didepan meja komputernya setelah selesai mengerjakan garapan Bu Erni sembari merapikan tumpukan kertas yang berantakan itu.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga”. Kali ini cuaca panas, dan warnet sedang dipenuhi oleh beberapa siswa-siswi yang sedang mencari makalah dan ada yang hanya sekedar bermain Friendster dan Facebook.

Semuanya sepertinya bahagia hari ini… “benar-benar hari yang indah” guman Dilla lagi sembari bercanda dengan kliennya yang kebetulan juga sering ngenet di warnetnya.

Cinta itu datang, kadang tiba-tiba kadang pula terencana. Dan sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu dimana sangkarnya termasuk bentuknya, dan cinta bisa menaklukkan apapun seperti sebuah hati yang keras sekalipun dan pengorbanan yang katanya bisa mahal “karena cinta”. Tak jarang juga mengundang beragam kekerasan dan sejenisnya, tapi itu semua tergantung bagaimana kita menyikapi. Serta satuhal yang tidak bisa dipungkiri karena cinta itu indah. Tak ada seorangpun yang tak berhak memilikinya, karena Tuhan memberikannya adil dan sama rata.

Cinta ada dimana-mana, termasuk didalam hati, di rumah-rumah yang bahagia dan retak sekalipun, diantara pepohonan yang ridang, bunga-bunga yang bermekaran, dibarisan pengemis kecil jalan raya pagi hari, dikolong-kolong jembatan tempat para GEPENG “Gelandangan dan Pengemis” yang terkadang dihinakan dan diseluruh isi jagad ini. Cinta tak pandang waktu, usia, kapan dan siapa. Sekali lagi karena cinta itu adalah bukti Keagungan Yang Maha Kuasa kepada kita semua.

Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May



Keren ya Cin, Group Band yang satu ini The Virgin Band. Dua cewek cantik Mitha (gitaris dan sekaligus backing vocal The Rock band) dan Dara (Jebolan mamamia 2) ini bisa membius penikmat musik di tanah air dengan suaranya yang khas dan aliran musik yang beda tentunya. The Virgin ini dibentuk pada Januari 2009 dan merupakan anak asuh dari Republik Cinta Management milik Ahmad Dhani ini pokoknya T.O.P deh.
Dengan single hits Cinta Terlarang dan Belahan Jiwa (Keduanya adalah ciptaan Mitha) ini mampu memikat hati deh pokoknya.
download lagunya disini Cinta Terlarang dan Belahan Jiwa
Chayoo deh The Virgin Band

Selengkapnya...

Teteh Titiem Si May

CINTA VELLA



Bulan tampak pucat malam ini, senyumnya tipis menengokku melewati celah-celah jendela kamarku yang sedikit terbuka. Kucoba lepaskan pandanganku, memandangi sebuah senyum manis kekasihku dalam potret-potret indahku bersamanya saat masih SMA..
Ya, kenangan masa SMA yang tak mungkin hilang dalam hati, cinta terpendam yang akhirnya bisa terwujud menjadi jalinan cinta nan terbuka.
“Andai kau masih disini, Dista” guman Vella lirih dalam hatinya. Dirasakannya rindu yang teramat sepi ini di dampingi bulan yang temaram. Air matanya mengungkapkan sebuah ketakutan yang teramat dalam. Fikirannya melayang menyusupi buana yang gelap dan sepi. Dicobanya untuk lebih sabar dan yakin bahwa Desta akan segera kembali dan tetap setia bersamanya.
Kepergian Desta ke kota adalah karena keinginannya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya dia dan Vella. Meskipun dia dari keluarga berada tapi niatnya untuk hidup mandiri begitu besar. Dia tidak ingin selamanya hanya bisa menjadi benalu saja. Yang dia inginkan nantinya adalah memeiliki keluarga bahagia lahir dan bathin bersama Vella.
Itulah janji Desta kepada Vella, yang sedang melanjutkan Studynya di sebuah Universitas ternama Fakultas Ekomom. Berdasar kepercayaan, Vella pun mengizinkan Desta mengadu pengalamannya di luasnya kota Metropolitan dengan seribu gemerlapnya lampu-lampu malam meskpin dengan sedikit keraguan.
***

Di tempatnya yang sekarang, Desta mendapatkan pekerjaan yang cukup baik. Disebuah perusahaan milik Negara yang ternama. Disitulah awal kehidupannya mulai bisa dia baca.
Di kamar kostnya Desta duduk di depan meja computer, di bukanya pesan-pesan dari sebuah ajang jejaring social facebook. Dibacanya berulang kali pesan dari Vella.
“Dear, Desta”
Malam ini sepi, bulan pucat pasi
hatiku gelisah memikirkanmu disana kasih.
Adakah kau masih memikirkan aku??
Rinduku berbenturan dengan dinding bisu, adakah sampai disana sayang?
Cintaku tulus, penantianku murni
Karena aku hanya ingin kau datang nanti, menepati janji.
Membawakan aku seteguk kepastian hakiki.
I luv u Desta.

Tengah malam yang sepi, tanpa petikan gitar.
Vella

Air mata Desta melebur membasahi ruangan yang sepi, dibalasnya pesan singkat itu. Karena dia memang tulus meninggalkan Vella untuk masa depan mereka.
“Vella, terkasih”
sungguhpun malam ini aku tak ingin dingin menggelayuti tubuhmu
menggantungkan kesunyian hingga kau resah.
Aku tulus Vella, cintaku Cuma ada satu , Itu ”kau” kasih
Kurasakan rindumu teramat yakin akan janjiku
Percayalah sayang, yakinlah cintaku tulus.
Bersabarlah kasih, aku akan datang menjemputmu nanti
Jika sudah saatnya.
“I luv u too Hanny”

Desta ,

Malam memanja keduanya, meski jarak jauh menantang sekalipun tapi komunikasi keduanya masih tetap terjalin dengan sangat baik, karena kemajuan tekhnologi.
***
Seperti biasanya pagi ini Desta memulai aktivitasnya, disebuah kantor besar dan ternama itu. Dengan Cinta dia bekerja sama.
Cinta adalah anak dari direktur Perusahaan dimana Desta bekerja. Kecantikan dan kecerdasan intelektual tak hayal membuat Cinta sering terlibat dalam urusan public. Gadis sampul jebolan tahun 2005 ini selain berprofesi sebagai Presenter di acara-acara beken Indonesia dia juga sebagai seorang modeling yang provisional. Bahka dia juga telah membuka tempat kursus modeling sendiri.
Ramah, itulah cinta. Meskipun berasal dari keluarga yang tak pernah surut dengan gelimangan harta, tapi tak membuat gadis ini menjadi congkak dan sombong. Dia tetap menjadi seorang gadis modis nan sederhana.
“Desta, kamu nanti malam ada acara?” Tanya Cinta suatu pagi
“tidak ada, ” jawab Desta sambil mengingat-ingat.
“memangnya ada apa?” Tanya Desta
“ Nanti malam saya ada show, maukah kamu menemani saya?” sekalian kamu bisa melihat betapa indahnya metropolitan ini pada malam hari. Rayu cinta sembari tersenyum.
“Bagaimana ya?” Desta berusaha mempertimbangkan.
“Okey, kalau begitu nanti malam saya jemput kamu di tempat kos kamu.”
Desta hanya tersenyum, tak berdaya.

Malam itu, sebuah mobil dengan merk ternama melaju dengan kecepatan sedang. Menuju ketempat tujuan. Tampak Desta dan Vella yang malu-malu. Mereka canggung karena memang tidak mendapati topic yang tepat untuk dibicarakan.. akhirnya mobil itupun berhenti disebuah tempat dimana Cinta akan melakukan shownya. Di gandengnya Desta dengan ramah, mereka memasuki sebuah ruangan. Tampak beberapa orang memperhatikannya dan tertegun. Beberapa wartawan mengejarnya, dan menangkap gambar keduanya yang sedang bergandengan.
“Maaf mbak, itu pacar anda ya?” Tanya beberapa wartawan yang menghampiri keduanya.
Cinta hanya tersenyum, lantas dia mulai bicara.
“Wawancaranya nanti saja ya, saya mau show dulu” sembari menginggalkan senyuman, cinta dan Desta memasuki ruangan itu.
Tak lepas semalam lampu-lampu kamera menyoroti keduanya, dimedia dan layar kaca, tampak keduanya begitu mesra.
setelah selesai show, cintapun menepati janjinya. Dia menemui juru warta dan menjelaskan perihal pria yang bersamanya itu.
“Dia bukan siapa-siapa, dia hanya teman baikku… “ sembari menjelaskan.
Di pematang kota yang lain, tampak air mata Vella mengalir lembut membasahi pipi-pipi yang tidak berdosa itu. Kecemburuan yang dalam yang baru saja dia lihat, adalah saksi mata yang menyakitkan.
Beberapa media seperti televisi, surat kabar dan tabloid bahkan sedang sibuk-sibuknya menyiapkan berita hangat tentang kisah Cinta yang terpendam. Meskipun Cinta sudah menjelaskan bahwa desta bukan kekasih tambatannya. Nampaknya juru warta tak urung usai mencari tahu seluk-beluk keduanya.
Sedangkan Desta, entah apa yang ada dalam fikirannya malam itu. Bahkan dia tidak menyadari, kalau kebersamaannya bersama Cinta malam itu akan mengundang konflik cintanya dengan Vella.
Setelah show berakhir, mereka meninggalkan tempat itu dan menuju kesebuah restorant langganan keluarga Cinta. Tempat yang besar dan indah. Tampak sebuah cahaya lampu yang samara-samar itu menambah nuansa romantis menjadi sangat kental.
Setelah memesan beberapa makanan, mereka bercakap-cakap.
“Bolehkah aku bertanya padamu Desta?” Tanya Cinta memberanikan diri.
Tentang apa?,
“Kamu sudah mempunyai pacar?” Tanya Cinta lagi
Desta hanya terdiam, entah berani atau tidak dia bicara. Tapi dia memang tidak bisa memungkiri tentang jalinan cintanya dengan Vella.
Kenapa kamu Tanya itu? Tanya itu
“tidak apa-apa. Aku Cuma ingin tahu saja” jawab Cinta sederhana.
Desta mengangguk, “ya saya sudah mempunyai pacar,” tanpa menyebutkan namanya.
Ohh,,, tanpa kata-kata lagi Cinta melanjutkan makan malamnya itu.

Kehidupan keluarga yang mapan, membuat Cinta terkadang tidak sebebas burung terbang disana. Keinginannya untuk memiliki hati sesuai pilihannya pun menjadi sesuatu yang teramat sulit dia dapatkan. Pertunangannya dengan laki- laki pilihan orang tuanya sebentar lagi akan dilaksanakan. Landasan rasa cinta itulah yang membuat dirinya menolak untuk dijodohkan dengan pilihan orang tuanya.
Rangga, dialah cowok yang akan menikahi Cinta nantinya. Cowok lugu ini juga tidak mampu berkilah dengan pilihan orang tuanya. Dan dia juga tidak kuasa berbohong tentang rasa cintanya yang bergitu besar untuk Cinta. Dia juga menyadari, hati cinta tak pernah ada untuk dirinya. Rangga sekarang masih berada di Luar Negeri melanjutkan study dan perkerjaannya disana.
Sebelum akhirnya dia pulang ke Indonesia dan menikah dengan Cinta.
Air matanya seolah jadi saksi tunggal dalam hidup Cinta. Kecintaannya pada Desta pun seolah menjadi suatu yang mustahil. Karena hati desta tidak pernah ada untuk dia. Tak pernah dia bawa ke metropolitan ini bersamanya.

Kebebasan, itulah harapan dia sesungguhnya. Cinta juga ingin menikmati indahnya hidup sesuai dengan jalan fikirannya.
“”
“Rangga cowok yang baik, kenapa kamu menolak dia?” Tanya Desta suatu ketika.
“tapi,,, Aku tak mencintainya, dan ini tak mungkin aku paksakan, aku juga tak mungkin bisa berpura-pura cinta. Karena membohongi diri itu jauh lebih menyakitkan.”
Aku hanya menyukaimu Desta, ucap Cinta yakin.. tapi semuanya tak mungkin. Karena aku tahu, hatimu tak pernah ada untukku. Kamu terlalu setia sebagai seorang laki-laki. Berbahagialah orang yang bisa mendapatkan cintamu.
Desta hanya terdiam tak bicara sedikitpun. Dia tak percaya dengan ucapan lembut dari bibir Cinta itu.
Jauh dalam hatipun, Desta memendam rasa pada Cinta. Tapi dia menyadari kalau ini sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi. Karena Desta sudah memiliki Vella yang terlebih dahulu di cintainya. Desta tak ingin mendustai kepercayaan Vella.
“Jujur Desta, katakana padaku!!!. Apakah kamu nyukaiku?” Tanya Cinta memberanikan diri.
Desta terdiam, dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Karena dia juga terlanjur mencintai Cinta.
Ya, Cinta.. jujur aku menyukaimu. Tapi aku juga tak bisa jika harus terus menyukaimu. Aku sudah miliki Vella. Dia telah lebih dahulu kumiliki, dan aku telah berjanji padanya. Aku akan setia kepadanya, akan menikahinya jika aku pulang nanti.
***
Lelah, itulah yang dirasakan oleh Desta beberapa hari ini, pekerjaan yang menumpuk dan serba mendadak membuatnya kurang berkomunikasi dengan Vella. Facebooknyapun jarang dia kunjungi. Sedangkan handphonenya selalu di non aktifkan karena dia memang sedang tidak ingin di ganggu.
Desta baru menyadari, tentang kebersamaannya saat itu yang kini menjadi obrolan bebas dan murah di masyarakat itu membuatnya jauh dari Vella. Gossip kedekatannya dengan putri Direktur Perusahaan ternama yang cantik dan memiliki segudang prestasi itu membuatnya jdi buronan publik juga. Di internet dan ditelevisi, wajahnya tidak jarang ditampilkan.
Dibukanya facebooknya, di bacanya beberapa kali pesan dari vella, air matanya luluh, karena dia memang tidak sengaja telah membuat Vella patah hati.

Pesan ke 1 dari Vella

waktu memanjamu, kian sepi bagiku
berteriakku memanggilmu, tapi palsu karena kau bisu
kau pendusta cinta, kau penghukum kesetiaanku
janji manis dulu, tak perlu lagi dibicarakan
cincin darimu telah aku sandarkan di lain waktu
aku tak ingin menunggumu lagi
biarkan air mata ini terus tersenyum
memandangimu yang bahagia disana bersamanya.

Vella

Pesan ke 2 dari Vella

Waktu ini telah membuktikan
Mampu mengukur kesetiaan,
Malam-malam berlalu mengajariku setia
Membimbingku, menghargaimu dengan harapan suci.

Malam kedua berlalu, tanpa balasan apapun darimu
Terima kasih buat semuanya.
Vella

Desta berusaha menghubungi ke ponsel Vella, tapi selalu mail box. Dia ingin menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya yang sedang terjadi ini. Dia tak mampu bicara sedikitpun. Air matanya penuh penyesalan, karena dia tidak pernah berniat menyakiti Vella.
Dibalasnya pesan Vella

Vella tercinta,
Sekali lagi aku tak pernah bermaksud membuatmu menangis seperti ini.
Tak ingin cinta kita penuh kedustaan
Aku mencintaimu tulus kasih
Cinta, dia hanya sahabatku saja
Aku hanya dimintanya mengantarkan dia malam itu, karena sudah mendapatkan izin dari orang tuanya juga. Dia sudah memiliki kekasih Vella. Percayalah padaku.
Besok aku akan datang, aku akan membuktikan padamu karena aku masih inginkan kau. karena aku masih mencintaimu.

Desta


Dihari pertunangan Cinta dengan Rangga
Cinta mengangis,, air matanya berbicara tentang ketidak sukaannya pada pilihan orang tuanya itu. Tapi dia cowok baik dan pengertia.
Cinta hanya bisa sesenggukan, air matanya tak kuasa dia kendalikan.

Pertunangan, inilah hari yang harusnya bahagia. Keterpaksaan dari orang tuanya, tak bisa dipungkirinya lagi. Air matanya pasrah, dia hanya berdo’a semoga ini yang terbaik untuk dirinya kelak. Menikah dengan orang yang tidak di cintai, entah dia sanggup apa tidak. Tapi dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.
Dilihat-lihatnya kesekitar, tak sedikitpun dia menemukan sosok Desta hadir. Cinta hanya terdiam, berusaha larut dalam suasana pertungan yang telah dibuat meriah itu oleh orang tuanya.
Hingga acara pertunangan usai, Desta tak juga hadir.

Dikamarnya, dibukanya laptop yang berada diatas meja itu. Dilihat-lihatnya pesan singkat dari Desta.
“ To : Cinta”

Dihari bahagiamu ini, aku hanya ingin mengucapkan selamat ya. Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan olehnya. Belajarlah untuk berusaha mencintainya. Percayalah bahwa dia mampu menjadi imam yang terbaik untukmu.
Maafkan aku gak bisa hadir di acara tadi, aku sudah pulang ke desaku. Maafkan aku tidak berpamitan denganmu, karena aku memang tak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Aku ingin moment terindahmu kau miliki utuh.
Kita bisakan jadi sahabat yang baik dan bahagia.
“Belajarlah mencintai Rangga, dia itu cowok yang setia, orang tuamu pasti punya alasan tertentu untuk menjodohkanmu dengan dia. Percayalah pada mereka, mereka tak akan melukai dirimu, karena mereka menyayangimu” nasehat Desta”.
“Apa artinya rumah mewah, harta banyak… tapi tanpa cinta?” . dirikanlah pondasi-pondasi itu Cinta. Percayalah, Tuhan telah menggariskan ini semua untukmu. Tuhan telah adil memberikan dia padamu.
Cinta, itulah rahasia kehidupan. Ketika kita meminta sesuatu yang kita inginkan. Tapi Tuhan memberikan sesuatu yang lain yang tidak pernah kita harapkan. Semuanya memiliki makna, semuanya rahasia alam yang kita tak mampu menolak.
Berbahagialah cinta..

Salam manies dariku Desta.

Cinta hanya terdiam…. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Air matanya penuh dengan penyesalan. Karena dia malam itu, hubungan Desta dan kekasihnya menjadi retak.
Dibalasnya pesan dari desta itu.

“Maafkan aku Desta, aku berjanji besok akan kerumahmu. Aku akan menjelaskan semuanya ini kepada Vella. Aku tidak ingin mengorbankan cintamu dengannya.”
Sekali lagi maafkan aku, aku juga ingin kau bahagia.

Cinta

***
Kedatangan Desta membuat Vella semakin geram. Sedikitpun dia enggan bicara dengan Desta. Air matanya masih menyisakan trauma.
Desta berusaha menjelaskan semua itu kepada Vella, vella hanya menangis tidak berdaya.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah itu berhenti, mencari-cari rumah Desta. Dia adalah Cinta yang berusaha menjelaskan pemasalahan yang sesungguhnya kepada Vella. Karena dia tidak ingin melukai hati Vella. Dia meminta maaf kepada Vella.
Vella sangat bahagia. Senyumnya kembali dia hadirkan. Dia percaya bahwa Desta adalah lelaki setia. dia juga tidak akan mengecewakannya.
Kejujuran Cinta itu, membuat Vella luluh dan kian yakin.
Desta tersenyum karena dia akan menepati janjinya. Menjadikan Vella sebagai pengantin sucinya sesuai dengan kesepakatan saat pertunangan dulu. Mereka sangat bahagia.

Dibelahan desa yang damai itu… tampak persiapan pernihakan Vella dan Desta akan segera dilangsungkan. Kesedihan membungkam bibir Cinta saat hadir dia cara pernikahan yang meriah itu. Kebahagiaan cinta Vella dan Desta.
“Semoga kau berbahagia kawan” dalam hati Cinta bergumam. Sembari memberikan kado pernikahan. Lantas Vella dan Rangga tunangannya berlalu meninggalkan acara itu dengan senyum.
Entah terpaksa atau tidak, tapi Vella teramat bahagia. Malam terang bertabur bintang, seolah mendukung keabadian cinta mereka. Senyumnya memecahkan sunyinya malam mereka berdua.
Cinta Vella, telah sampai pada masa yang suci,,, sesuci air-air surga yang mengaliri kebahagiaan mereka.
Tengah malam… cinta dipatri, bahagia.
Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May

NASIB

(BINCANG-BINCANG SORE)


Dasar nasib, tiap hari kaya begini terus. Kerja setiap hari rezeki gak juga nambah-nambah. Dasare apes. Gerutu Yayan saat setelah pulang dari kerjaannya disebuah perusahaan air minum Oxigen di daerahnya seore itu. Tugasnya hanya mengantarkan pesanan Aqua Galon ke rumah-rumah langganan. Setelah tugasnya selesai dia pulang. Sambil mengusap kristal keringatnya.

Yang sabar to Yan,yan. Namanya rezeky berapapun harus diterima. Di syukuri saja, pemberianNya. Masih untung kamu dapat kerjaan, liat tu si Memet dan Joko!, sambil menunjuk kearah kedua pengangguran yang sedang asyik main domino di depan warung kopi sebelah, nasib mereka tak semujur kamu. Sahut Ibunya memberikan semangat.

Sudah, kamu sholat dulu sana! Keburu habis nanti Asharnya. Perintah ibu sambil menepuk pundak Yayan.

Ya buk, sembari meninggalkan ibunya.

**


Di depan rumah

Hey Jok, kapan datang? Tanya Yayan menghampiri Joko yang baru pulang dari Kota Orang. Kenapa kok sudah pulang? Gimana kerjaan kamu disana ?

Kemaren Yan, kemaren siang. Apes aku yan ..

Apes kenapa jok? Tanya Yayan penasaran.

Uang hasil kerjaku ludes dibawa kabur teman ku.

Loh kok bisa sih Jok? Memangnya kamu taruh dimana tu uang?

Ya di dompet lah Yan, tapi yang namanya maling Yan, lebih halus dari Tuyul. Sembari melempar senyum.

Ya betul Jok, namanya juga tuyul dah halus kadang sok baik lagi, hehe…. Aku mau dunk ikutan main dominonya.

Gimana lagi yan, namanya juga rezeky. Kalau udah diambil orang berarti itu rezekinya mereka. Mau demopun percuma, sebab orangnya sudah kabur. Teriak sekalian pun orangnya dah tuli gak denger.

Yang sabar aja Jok, sahut Memet yang sedari tadi sibuk dengan dominonya.

Kamu sendiri Met, kenapa gak cari kerja? Yayan melempar Tanya pada Memet.

Seketika memet memberhentikan permainannya, dan serius menjawab.

“hari gini lho yan, mana ada toh orang yang mau mempekerjakan aku, apalagi aku hanya lulusan SMP, gitu aja nilaiku pas-pasan” sambil meringis entah karena malu atau karena dia sudah putus asa.

memangnya kamu mau kerja apa sih Met? Tanya Yayan juga penasaran.

Bapakku petani, aku Cuma jadi kuli bangunan, generasi yang setandar (sambil mengusap keringatnya yang mulai menetes). Kan percuma !!!. Aku sih kepinginnya kerja kantoran. Duduk di kursi empuk, gak kepanasan. Kayak Bupati-bupati itu sembari menunjuk kearah Poster Bupati di kaca rumah Mbak Sarti, kan asyik tinggal ngurusin duit doang ya nggak?. Atau kalau bisa langsung Jadi Presiden saja, kan asyik bisa nebar janji disana-disini. Uang banyak, kemana-mana diatar mobil mewah, dikawal lagi….. duhh kayak ratu deh pokoknya. Mujur banget ya nasib orang yang bisa jadi Presiden.

Hahahaha, sontak ketiga orang tersebut tertawa ngakak.

Tapi yang namanya Presiden itu mikire pakek otak Met, gak pakek dengkul kayak kamu. Soalnya dia orang nomer satu jadi memang harus benar-benar punya akal yang cemerlang. Tanggung jawabnya juga besar. Cetus Yayan

“Aku juga kepingine kerja enak Met, kalau perlu gak kerja tapi dapet duit. Tapi Nasib tetep nasib, di takdirkan melarat kali ya”. Dulu sempet sekolah sampai SMA kelas 1 setelah itu aku putus sekolah karena selain biaya sekolah mahal aku mesti bantuin bapak biayain adik yang masih SD. Sahut Joko bersedih mengingat-ingat masa lalunya.

Kalau kamu Yan? Tanya Memet lagi

kalau aku sih gak muluk-muluk kayak kamu Met, sahut Yayan.

Trus kamu pinginnya gimana yan? Tanya Memet sambil bengong

Aku sih pinginnya “cukup” itusaja

“cukup ??” Tanya Memet masih penasaran

iya, maksudnya Uang cukup, rumah cukup, mobil cukup, semuanya serba cukup. Hehehe… bisa gak ya kira-kira.

Hayahh itu mah sama saja Yan, “kedunyan” (terlalu mikir duniawi).

Wakakakakak mereka kembali ngakak.

**

suit…suit…., mau nyapu ya mbak? Tanya Joko pemuda kulit hitam manis dengan badan Tinggi kurus ini.

Iya neh Jok, sambil mengayunkan sapunya. Mau bantuin aku tha? Balas mbak Sarti meledek.

Boleh tha mbak?, ya udah mbak tak Bantu do’a aja deh. Sembari tersenyum

“Ooh dasar Semprul” ledek Yayan sambil menepuk Pundak Joko dengan kartu dominonya.

Dari tadi aku lihat kalian tertawa renyah, memang kalian pada ngomongin apa sih? Tanya Mbak Sarti yang seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) juga di perusaan Negeri, merasa penasan.

Ini loh mbak, si Memet menghayalpingin jadi Presiden (sambil menunjuk kerah Memet), modal tampang saja sudah pas-pasan, otak minim, melarat lagi. Wakakakakak ledek Joko di iringi tawa renyah yang lain juga..

Sialan kamu Jok, sembari malu-malu. Tapi namanya orang itu punya cita-cita itu baik kan. Ya gak mbak? Sembari mencari pendukung.

Iya betul Met,,,

Tapi mbak… kalau Presidennya kayak Memet, udah sekolah SMA saja gak tamat, apalagi otaknya!!!. Gimana nasibnya Indonesia mbak? Bisa dadal doel dong!!!. Sahut Yayan menimpali. (sembari memoleskan bedak tabur, karena Memet kalah main dominnya).

Yah… namanya juga manusia Yan. Punya cita-cita itu bagus. Tapi kalau tiap hari hanya bercita-cita saja dan tidak berusaha untuk mewujudkannya ya percuma, Sama saja dengan bohong. Mbak Sarti masih tetap menebarkan senyumnya yang manis itu.

Tuh kan, denger Yan apa kata Mbak Sarti. Jangan Cuma punya cita-cita saja. Tapi berusaha untuk mewujudkan itu jauh lebih penting. Balas Memet pada Yayan sambil mengacak-acak kepala Yayan.

Mereka berempatpun tertawa.

**

Ngomong-ngomong, Mangganya itu sudah ada yang matang Mbak. Ujar Joko Sambil menunjuk keatas. Dilihatnya segombolan buah mangga yang menggiurkan itu menggelantung seolah menggambarkan nasib mereka yang selalu menggantung tanpa bisa berdiri sendiri. Mereka hanya bisa berharap, semoga bisa mendapatkan seorang Pemimpin Negara yang benar-benat bisa merasakan pedasnya kehidupan rakyatnya, bisa mendengar jeritan-jeritan hati rakyatnya, dan menjadi curhatan masyarakat untuk masa depan Negara yang lebih baik dan berarah. Tidak hanya sekedar obral janji murahan, dan hanya memikirkan tabungan masa depannya saja.

“kalian mau ya?” Tanya Mbak sarti

Ya sudah kalu gitu, sana Met kamu panjat Pohon mangga itu ambil beberapa buah mangga. Aku mau kedapur dulu ambil perlengkapan buat rujak’an.

Siiip… saya setuju mbak. Tanpa basa-basi lagi Memet sesegera mungkin memanjati pohon yang penuh dengan cabang itu dengan lincahnya. Layahnya seekor monyet yang sudah lincah.

“Met, kamu kaya Monyet. Disitu aja, manjat aja terus gak udah turun!!” ledek Yayan semangat.

“dasar Lutung Lhu…, lutung kasarung lhu ” balas Memet dengan senyuman.

Mbak Sarti datang membawa perlengkapan Rujak’an lengkap dengan bumbunya.

Sore yang sudah tidak begitu panas itu, mereka berempat asyik menikmati rujak buah mangga yang pedas buatan mbak sarti. Sepedas nasib mereka yang sebenarnya masih mengharapkan keadilan Pemerintah dan masih berharap kepedulian pemerintah benar-benar terwujud bukan sekedar janji manis saja.

“Loh mbak…. Katanya nyapu??” Tanya Joko mengingatkan

“Alah… Jok, nanti saja” sambil melempar senyum.




Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May

KISAH “ E “

(GADIS CILIK PENCARI KEADILAN DAN CINTA)




Pagi selalu dalam senyuman, entah apa yang ada dalam hatinya. Menjeritkah? Menangiskah? Tapi dia teramat tabah. Ibunya pergi merantau kenegara orang dan tanpa kabar. Hanya bersama nenek dan saudara ibunya dia dititipkan dan hidup selama ini. Air mata balita ini sungguh masih suci. Dia masih teramat ranum untuk merasakan pedasnya jalanan yang berbahaya ini.

Dimanakah ayahnya? Tanya seorang tetangga kepada tetangga yang lain.

Hati serasa mendung, barulah datang sebuah jawaban, dari dalam yang ingin menangis juga ketika bercerita. “Ayahnya pergi ke kota orang, setelah brecerai dengan istrinya/ibu “E”, lantas ibu “E” memutuskan untuk pergi keluar negeri. Sejak itulah dia tidak lagi memberikan perhatiannya pada “E”, dan terdengar kabar dia sudah menikah lagi dengan istrinya dulu. Sampai saat ini juga tidak pernah menjenguk “E” sama sekali.

“Dosa kau,!!!, meninggalkan anakmu sendirian, menelantarkannya senidirian.!!!,” salah seorang lagi mengutuk dengan nada yang tinggi dan kesal.

**

“E”, seorang murid TK yang sudah terbiasa sendiri. Kesekolah sendiri meski jarak rumah dan sekolah terbilang jauh, tapi dia sudah terbiasa berjalan kaki. Kadang beruntung ketika ada orang yang memberinya tebengan, kadang juga dengan senang hati guru-gurunya yang mengantarkan dia, makan sendiri dengan lauk seadanya yang dimasak oleh si nenek tercintanya dan tantenya, cuci baju dan belajar semuanya dilakukannya sendiri. Usianya masih kurang dari 5 tahun. Tapi dia sudah seperti gadis kecil berusia 9 tahun. Bermain-main dengan teman sebayanya. Karena dia juga masih anak kecil yang senang dengan kebebasan.

Kehidupan yang membahayakan, siapa yang melindunginya? Neneknya kah yang sudah tua itu? Atau saudara-saudara ibunya? Kemana sejatinya kasih sayang orang tuanya? Dimanakah peran mereka untuk mendalangi hidup gadis kecil mereka? Begitu teganya mereka melepaskan buah cinta mereka yang manis ini.

Kadang dia diam di bawah pohon mangga itu sendirian, sambil menggaris-gariskan ranting kering di tanah. Entah apa yang dia lukis. Sebuah harapan barukah yang ingin mekar? Tiada yang bisa menjawab. Dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang hatinya, karena dia belum pandai bercerita.Dia juga tidak pernah menangis, karena teramat kuat dia mengikat perasaannya.

Tapi tetangganya siang itu tahu, mereka dapat merasakan dalamnya luka kerinduan “E”kepada orang tuanya. Meskipun nenek dan saudaranya selalu menyayanginya, tapi cinta sebagai seorang anak juga layak dia dapatkan sebagaimana yang lainnya. Dekapan lembut orang tua dan kasih sayang sebagai gadis kecil tidak pernah ia tuntut. Terbuat dari apakah hati gadis kecil ini, hingga sebegitu kuatnya dia. Tak ada yang mampu menebak.

“Besok, ibuku datang bawa oleh-oleh” itu mungkin do’anya setiap sore ketika di mushola. Gurunya selalu mengajarinya sabar. Tapi apakah “E” mengerti ? apalah nalarnya sudah sampai kesana.

Dan, itulah kekuatannya “E” dia teramat sabar. Harusnya kita yang belajar dari dia. Karena dia adalah guru kita. Seorang gadis kecil yang penuh dengan sejuta do’a dan kesabaran. Tanpa disuruh bersabarpun dia pasti sudah sabar, karena kehidupan memang mengharuskannya dewasa sebelum waktunya.

Cinta balita yang belum menuntut keadilan Orang tuanya. Haruskah seorang ibu meninggalkan buah hatinya, disaat dia masihmembutuhkannya untuk menyiapkan sarapan pagi dan segelas susu sebelum berangkat sekolah ? haruskah juga seorang ibu meninggalkan dia tiap pagi dan malam sampai pagi lagi ? padahal dia masih membutuhkannya untuk menina bobokkan sambil membacakan dongeng tentang kehidupan yang indah dan penuh cinta. Bukankah itu kewajiban seorang ayah? Dimanakah mereka?. Jeritan kecil dari dalam hati “E” , meski tak pernah kentara.

Malam itu dia terlalu lelah karena seharian dirumah tetangga yang sedang ada acara pernikahan anaknya. “E” anak yang ringan tangan, tanpa malu-malu dan berat hati dia ikhlas disuruh kesini-kesitu oleh tetangganya, sampai mencuci piringpun dia lakukan. Di usianya yang masih teramat kanak-kanak itu. Tetangganya pun tidak pelit memberikannya uang jajan kepadanya, mereka sudah teramat sayang pada “E” yang penurut dan pendiam itu. Dia teramat gembira.

Dirumah yang sederhana, hanya bersama nenek dan tante-tantenya yang selalu menyayanginya. Ditutup buku menggambarnya setelah dia selesai mewarnai tugas dari sekolahnya dan belajar membaca sendiri ditemani neneknya yang selalu setia itu. Lantas dia pergi kekamar bersama neneknya. Direbahkannya tubuh yang mungil itu sambil membaca do’a “bismillahirrahmanirrahim” meskipun dengan nada yang terbata-bata tapi dia tergolong cerdas karena sudah bisa menghafal. lantas dia terlelap melepas beban yang telah ia jalani seharian. Berselimutkan kain tipis nan kusut itu, dia berusaha melawan musim dingin tanpa cinta dari orang tuanya.

Paginya, badannya panas. Dia sakit tapi sang nenek bingung dipikirnya hanya demam biasa, ternyata tidak. Badan “E” kian pucat dan demamnya tinggi sehingga mengundang perhatian keluarga tetangga sebelah rumah tempat dia tinggal.

Dibawanya tubuh “E” yang demam itu ke sebuah Puskesmas oleh keluarganya. Setelah diperiksa, “E” terkena tivus. Dia harus istirahat yang cukup dan harus makan makanan yang bergizi, kata dokter dia terlalu banyak berfikir. Sang nenek bersedih, melihat cucunya selalu dalam kesedihan. Sekali lagi tanpa cinta dan dekapan hangat orang tua. Yang seharusnya ada disaat dia sakit seperti sekarang ini.

“E” menangis, tapi dia sepertinya juga tidak menampakkan kerinduannya terhadap orang tuanya. Tubuhnya masih lemah, terbaring dikamar tidak berdaya di temani sang nenek. “E”, teramat dalam dan rapi dia menata penderitaannya. Yang entah apa ia menyebutnya, karena dia teramat kecil untuk bisa menyimpulkan sesuatu.

“Ibu…, ayah… ” itulah mungkin yang diharapkannya saat ini ada disampingnya…. Tanpa air mata dia terlelap.

***

Jalanansiang ini panas, tapi tak sepanas tubuh “E” yang masih sakit dan terbaring di ranjang ditemani neneknya. Tampak sebuah sepeda motor merek terkenal itu berhenti tepat di depan rumah dimana “E” dan neneknya tinggal.

Seorang laki-laki yang nampak masih muda itu mengucapkan salam, lantas memasuki rumah. Seketika “E” berlari kearahnya yang wajahnya masih sangat ia kenali itu, yang datang tiba-tiba itu setelah perceraian dengan ibunya dia pergi dan tidak pernah ada kabar.

“Ayah…., “E” berteriak gembira” berlari kearah ayahnya, berharap mendapatkan pelukan darinya. Air mata seolah tak bisa membohongi perasaan sudah lama dia pendam, berhasil meluluhkan cuaca dan suasana rumah yang kian haru itu.

Dipelukan sang Ayahm di usapnya air mata Ayahnya yang menangis, meslipun “E” juga sedang menangis, ayahnya bersedih melihat badan putrinya itu kurus dan sakit. Dia menyesal karena tidak pernah mempedulikan nasib putri tunggalnya itu. Dipeluk dan diciuminya tubuh gadis manis itu dengan rindu yang dalam dan rasa penyesalan.

Dimanjakannya sang putri dengan mengajaknya ke tempat wisata di daerahnya setelah dia sembuh. Berkeliling dengan putri tercinta yang pernah disia-siakanya selama hampir satu tahun itu, tapi sudah membuat kesedihan yang teramat dalam bagi “E”. dia pun masih sabar, tidak berontak dan marah sama sekali pada ayahnya.

Sebagai seorang anak, dia teramat bahagia hari ini karena mendapati cinta yang nyata dari keluarganya. Dan ayahnya memutuskan untuk merawat “E” sendiri, dia ingin membalas rasa salah yang pernah dia lakukan dulu. Dia berjanji akan membahagiakan “E”. sang nenekpun mengikhlaskannya, karena bagaimanapun dia orang tua kandungnya.

Dirumah yang besar itu, disitulah “E” sekarang tinggal hanya berdua dengan ayahnya. (Ayahnya juga sudah bercerai dengan istri pertamanya dulu, Setelah semuanyahilang, barulah dia sadar. Betapa dia masih memiliki buah hati, yang pernah dia tinggalkan itu). disana kehidupan “E” terjamin, karena ayahnya benar-benar menenepati janjinya. Tapi “E” tidak berubah menjadi anak yang manja. Dia tetap seorang “E” yang sabar dan ceria. Meskipun dia masih berharap ayah dan ibunya ada disisinya dirumah yang besar ini dan hidup bahagia.

Entah apa yang terjadi di luar sana, ibunya masih belum ada kabar. Terkadang “E” bertanya kepada ayahnya tentang kabar ibunya, tapi tetap saja. Rapatnya Negara orang menghalangi teriakan hati “E” yang rindu.

Angin manakah yang memberikan berita, tentang ibu “E” di luar sana. Dia akan segera pulang ke Indonesia bulan depan, karena majikannya yang dirawat (seorang nenek tua) sudah meninggal dunia. Jadi selesai sudah tugasnya disana.

Mendengar berita tersebut “E” sangat bahagia, dia semakin ceria dan semangat. Ayahnya bangga padanya, karena dia menyadari meskipun “E” tidak menuntut keadilan cinta, harusnya itu memang suatu kewajiban orang tua dan kesadaran mereka sendiri untuk memberikannya.

Di mushola yang baru, setiap sore dia mengaji dan berdo’a. entah do’a apa kali ini. Semoga Allah senantiasa mengabulkan do’a-do’anya. Semoga kebahagiaan senantiasa bersamanya. “E” gadis kecil yang bahagia.***

Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May


KARTU UNDANGAN

(Kisah Terakhir Teman)


R

angga adalah salah seorang Mahasiswa di Universitas Brawijaya Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia. Bersama dengan kekasihnya Dilla yang telah dipacarinya tiga setengah tahun, sore itu setelah pulang kuliah mereka berencana menuju ke sebuah toko undangan. Mereka akan membeli beberapa undangan untuk mengundang teman-teman dan sahabat-sahabatnya saat pesta pertunangannya besok. Suatu hal yang membahagiakan, dia ingin di hari bahagianya itu seluruh orang juga merasakan kebahagiaan juga.

Sampai di toko undangan mereka segera memilih-milih undangan yang bermotif sederhana dan unik itu dengan warna kecoklatan dengan hiasan daun-daun kering. Tampak sederhana dan menarik. Setelah membelinya mereka lantas berhenti disebuah rumah makan lesehan yang terkenal karena keunikan masakannya itu. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Di perempatan jalan raya yang ramai kendaraan lalu-lalang itu, ketika akan menyebrang tiba-tiba sebuah sepeda motor dengan kecepatan yang sangat tinggi itu menghantam sepeda motor yang dikendarai oleh Rangga dan Dilla. Mereka terjatuh dan terseret sepeda motor sejauh 20 meter. Mengetahui hal tersebut warga sekitar tempat kejadian langsung membwa korban di Rumah Sakit terdekat.

Kartu undangan berserakan memenuhi jalanan, darah-darah segar memenuhi jalanan sore yang masih terlihat terang itu, tampak ke dua sepeda motor yang hancur berserakan itu segera dibersihkan dan di amankan oleh beberapa warga dan Polisi yang kebetulan sedang berada di situ.

Di Rumah Sakit nyawa Dilla sudah tidak dapat diselamatkan lagi, dia sudah meninggal dunia meninggalkan Rangga yang sedang Koma di balut alat-alat medis Rumah Sakit. Seluruh keluarganya bersedih lantaran Dilla itu adalah anak tunggal yang cantik dan menurut.

Sebelum dia pergi mencari undangan ibunya memimpikan dilla yang sedang tersenyum cantik dengan mengenakan pakaian nikahnya dan membawa setangkai bunga mawar putih nan wangi itu, lantas dia berjalan mengikuti cahaya, semakin jauh dan hingga tak terlihat lagi karena tertutup kabut. Pagi itu ibu Niasti ingin menceritakan perihal mimpinya kepada dilla, tapi dilla terlalu terburu-buru jadi tidak sempat mendengarkan cerita sang ibu.

Kejadian yang masih belum bisa diterima, kehilangan anak disaat sebelum hari bahagianya dilaksanakan. Lantas tubuh Dilla yang sudah tidak bernafas itu di kebumikan di sebuah tempat pemakaman umum dengan bertaburkan mawar-mawar putih nan ayu. Seayu wajah dilla setiap harinya.

Mentari pagi setia menjaga tubuhnya agar tidak kedinginan itu, bunga-bunga segar setiap harinya selalu ada buat Dilla dari teman-teman dan sahabat-sahabatnya.

Luka membekas juga nantinya ada di hati rangga yang sedang koma dirumah sakit. Terbaring tanpa imajinasi tanpa senyuman dan tanpa mimpi. Semuanya berlalu seperti baru terbangun dari tidur. Rangga tersadar, dilihatnya disekeliling, tampak dia berada di sebuah ruangan yang asing. Ada yah, ibu dan teman-temannya yang selalu setia menunggu. Rangga bingung dengan apa yang telah terjadi.

“Ibu, Rangga dimana?” Tanya rangga penasaran

“kamu sekarang ada dirumah sakit nak,” jawab ibunya senang ketika mengetahui rangga sudah sadarkan diri setelah melewati mimpi panjang nan suram itu.

“Mana Dilla buk ?, besok kan hari pertunangan Rangga dengan Dilla” Tanya rangga lagi dengan nada yakin.

“Dilla ada, dia sedang istirahat dirumahnya.”, semabari menahan tangisnya dia menceritakan kejadian kecelakaan yang membuatnya seperti ini, dengan mengatakan kalau Dilla dalam keadaan baik-baik saja.

“maafkan ibu nak sudah membohongi kamu,” keluh bu Nana dalam hati yang tak tega menceritakan kejadian sebenarnya, yang akan lebih menyakitkan bagi rangga.

Sehari setelah itu rangga diperbolehkan pulang. Dia memaksa ingin datang kerumah Dilla. Keluarganya menolak karena Rangga masih belum terlalu sehat. Tapi rangga bersikeras ingin bertemu dengan Dilla. Dengan diantarkan Dio dan Vivi, mereka menuju kerumah Dilla dengan mengendarai mobil milik Dio.

Tampak rumah itu sepi, tak ada jawaban sedikitpun ketika Rangga mengucapkan salam dan mengetuk rumah Dilla. Kata tetangganya keluarga itu sudah pindah tempat sebulan yang lalu setelah kematian puterinya. Ibu nastiti mengalami depresi berat. Sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah itu sementara waktu.

Rangga berusaha menghubungi hand phone Dilla, tapi selalu tidak aktif.

“Maksud ibu apa?” Tanya rangga pada seorang pemilik warung kopi di samping rumah Dilla yang mengatakan, “kelurga itu telah pindah rumah setelah…”

Ibu itu tidak berani melanjutkan pembicaraan, karena Dio dan Vivi segera membawa tubuh Rangga yang bingung itu memasuki sebuah mobilnya. Di bawanya rangga kesuatu tempat yang sangat asing, masih dengan undangan warna coklat yang dibelinya itu tergenggam ditangannya.

Mobil itu berhenti tepat di sebuah pemakaman umum.

“kalian ngapain bawa aku kesini?, kalian udah gila ya ?” Tanya rangga masih dalam penasarannya .

Tanpa kata-kata, mereka menunjukkan sesuatu yang sebenarnya masih terlalu berat itu. Sebuah makam dengan bertuliskan nama Dilla Puteri Nastiti bin Sudarya. Yang menunjukkan dia meninggal satu bulan yang lalu.

Tidak….., kalian pasti bohong… ini tidak nyata kan Di, Vi…jawab!, kenapa kalian diam saja?. Apa yang sudah terjadi Vi? Rangga terisak-isak. Air matanya jatuh membasahi makam Dilla.

“karena kecelakaan itu, Dilla mengalami benturan keras dikepalanya. Dia mengalami gagar otak. Akhirnya dia meninggal satu jam setelah berada di rumah sakit.” Jawab Dio sembari meneteskan air matanya.

Rangga menjerit histeris tidak percaya. Di orak-ariknya bunga-bunga rapi yang menghiasi makam Dilla itu. Dia melemparkan kartu undangan yang sedari tadi di genggamnya. Menangis tidak percaya, karena kecelakaan itu nyawa Dilla terenggut.

Begitu cepatnya waktu memberikan batasan cinta, kartu undangan adalah kenangan terakhir yang masih tetap Rangga simpan. Dua tahun lamanya dia masih menjadi seorang yang pendiam, di kampusnya bahkan dirumahnya dia tak lagi mau bicara. Kehilangan kekasih di saat sebelum pertunangan berlangsung itu menyisakan trauma dalam yang mengiris lembut hati Rangga. Entah sampai kapan, dia menjalani waktunya yang tanpa mimpi dan arah ini, hanya dia yang tahu pasti***.

Selengkapnya...

Label: 2 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May

CERPEN 6

JEMBATAN DAN BATAS CINTA

Malam ini mendung menerawang dibelahan kotaku, dibalik tirai jendela kamar ini ku intip cahaya penguasa malam yang menerobos melalui celah-celah jendela kamarku. Nampaknya bulan kian malu-malu, bersembunyi di balik dahan-dahan gelap dengan cahayanya yang temaram.

Langit tenang, tapi berbeda dengan hatiku yang sedari tadi berdebar karena bahagia, ku coba untuk memejamkan mata tapi sial sebab rasa senang malam ini tidak lagi dapat ku bendung. Ku bayagkan suasana besok pagi.

Ku coba mengangkat ganggang hand phone ku, untuk menghubungi kekasihku yang besok pagi tepat pukul delapan akan mengikrarkan sumpah cintanya padaku, pada acara pernikahanku besok dengannya. Tapi ku urungkan, aku tetap mencoba bersabar, meskipun aku sudah merasa tidak sabar ingin bertemu dengannya.

“Rangga saying, aku tak bisa membayangkan bagaimana keceriaan setelah ini, tak bisa memikirkan bagaimana dirimu besok pagi ketika mengucapkan ijab qabul. ” Pekik Dilla di kamarnya yang sedari tadi matanya belum bisa ia pejamkan karena terlalu bahagia.

Dilembar hati yang lain, tampak Rangga juga sedang membayangkan Dilla kekasih hati yang telah dipacarinya selama 4 tahun lamanya itu. Yang besok pagi akan resmi menjadi istrinya itu.

“Betapa cantiknya dirimu, Dilla…”

“malam ini aku adalah orang yang terbahagia, ” tunggulah aku Dilla, besok pagi diperbatasan kota dan jembatan cinta aku akan datang untukmu, kubawakan ketulusan cintaku dan kubuktikan pada dunia tentang janjiku Dilla.

Sembari mempersiapkan detakan jantung yang akan dia luaskan besok pagi di Masjid Agung tempat cinta mereka akan di rajut, bersama embun pagi dan cahya mentari nan mesra.

Rangga berusaha memejamkan mata semampunya ditemani petikan khas suara jangkrik dan katak-katak disawah yang saling bersahutan, serta cahaya bulan yang tampak sabit kemerahan di tutup mendung tipis tanpa senyum mesra seperti biasanya.

“Astagfirullah hal adzim…,” sontak Dilla terbangun dari tidurnya, di sebuah kursi tempat ia melamun tadi. Karena bermimpi yang sangat aneh.

Dalam tidurnya itu, Dilla bermimpi tentang penikahannya. Dia mengenakan mukena dan membawa Al-Qur’an bersama dengan keluarganya dan penghulu yang akan menikahkannya., menjemput rangga yang sedang mandi di sebuah pantai di sebuah pantai. Lantasrangga mengikuti dilla dan kelurganya ke sebuah tempat yang samar. Dan acara pernikahan itu berlangsung sampai ijab qabul.

Setelah akad nikah berlangsung, keadaan di rumah tempat nikah dilla dan Rangga tampak sepi bahkan lebih sepi seperti setelah acara selamatan kematian.

Kemudian malam masih dalam mimpi, Dilla tidak menjumpai Rangga. Dia berusaha mencari rangga tapi tetap tidak ditemukannya. Padahal Dilla ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja dia lihat dilangit. Gambaran bumi yang terbelah menjadi dua bagian, sedang bagian sebelah kiri tertuliskan asma Allah. Suatu mimpi yang sangat aneh.

Lantas dilla terbangun, jam dinding di kamarnya masih menunjukkan pukul 02.00 malam. Dilla bergegas bagun, dilihat sekeliling masih ramai orang-orang yang mempersiapkan segala sesuatu, dan sebagian lagi asyik bermain kartu. Dilla segera mengambil air wudlu dan dia melaksanakan sholat tahajjud. Dia meminta pada Allah, semoga dalam mimpinya tersebut tidak mempengaruhi jalannya prosesi pernikahannya dengan rangga besok pagi. Semogaitu hanyalah sebuah mimpi saja dan tidak terjadi akibat suatu apapun. Setelah melaksanakan sholat sunnah tanpa bercerita kepada ibu ataupun saudaranya dia kembali merebahkan tubuhnya dilenturnya ranjang kamar.

Pagi tampak wangi di kamar pengantin, dimana Dilla dandani layaknya seorang puteri raja. Dengan pakaian adapt yang akan dia kenakan saat akad nikah berlangsung nanti. Dengan berbalutkan kebaya warna putih dia nampak cantik sekali, rambutnya disanggul ala puteri solo dengan tusuk-tusuk bunga yang menghiasi kepalanya nampak megah nan rupawan.

Jam dikamar menunjukkan pukul 07.34 masih teramat pagi, tapi itu adalah wakktu yang sangat mendebarkan bagi Dilla, karena 15 menit lagi Rangga dan kelurganya akan datang di tempat akad nikha berlangsung.

Di dapur, tampak sobuk ibu-ibu mempersiapkan ini itu untuk tamu-tamu undangan. Dengan sedikit candanya yang kocak dank has mereka tertawa renyah.

Tiba-tiba….Prraaakkk….

Suara yang keras dan mengagetkan itu berasal dari dapur,. Tumpukan gelas-gelas dan piring-piring yang sudah berisi makanan itu terjatuh dan pecah. Ada sebagian yang masih utuh segera di rapikan lagi.

Orang-orang dan para tamu undangan merasa kaget dan menduga-duga. Firasat apa ini ? Tanya seorang tua di dapur itu. Tapi mereka tetap sabar dan berusaha hati-hati.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi belum di dapati senyum manis rombongan mempelai laki-laki di tempat akad nikah. Dilla yang masih berada dalam kamarnya menjadi khawatir. Di ambil hand phonennya, lantas dihunginya rangga calon suaminya. Karena penghulu sudah menunggu. Hand phonennya aktif tapi tak ada jawaban sama sekali.

Kecemasan, juga dirasakan oleh keluarga dilla, mereka berdo’a semoga tidak terjadi sesuatu dengan Rangga.

Waktu masih tetap menjalankan langkahnya, dan sudah menunjukkan pukul 08.25 tapi dari pihak mempelai laki-laki belum juga menampakkan kedatangannya.

Tiba-tiba, ada seorang laki-laki paruh baya mendatangi acara pernikahan tersebut. Dia berlari dengan gugup dan bercerita sesuatu yang sangat mengagetkan dan membuat tidak percaya.

“Seluruh rombongan dari mempelai laki-laki mengalami kecelakaan. Jembatan Gantung pemisah batas kota mereka terputus. Akibatnya seluruh romongan itu terjatuh disungai, sekarang semua korban di larikan di Rumah Sakit”.

Mengetahui hal tersebut Dilla menangis histeris, lantas tak sadarkan diri. Kondisi Dilla juga lemah karena dia juga masih dalam keadaan puasa. Dilla kemudian dilarikan ke Rumah Sakit dimana Rangga juga mengapatkan perawatan.

Tidak pernah di duga sebelumnya, tubuh rangga yang lemah itu terbalutkan dengan alat-alat medis Rumah Sakit. Karena kondisinya yang sangat parah. Rangga mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya yang terhantam batu padas kali dan sempat terseret air sungai sejauh 200 meter. Sedangkan korban lainnya adalah dua sepupunya dan saudaranya yang baru datang dari luar kota itu meninggal dunia.

Setelah sadarkan diri, masih dengan kebaya putihnya dilla berlari mendatangi Ruangan ICU. Tak tega melihat kondisi calon suaminya yang terbaring kaku tanpa kekuatan itu. Di peluk dan di ciuminya kekasihnya itu, tak ingin lepaskan rangga.

Tidak…….. sambil menangis dilla menghampiri Tubuh rangga.

“Rangga, cepat bangun sayang.. ini aku Dilla.

“ Ini hari bahagia kita sayang”.

Jangan tinggalkan aku sayang, nada suara Dilla semakin melemah di raihnya tangan rangga yang sudah kaku itu, digerak-gerakkan badan Rangga.

Rangga, cepat bangun sayang, bangun rangga… bangun sekarang…

Rangga membukakan matanya mengisyaratkan sesuatu, tapi Dilla tidak bisa menebak isyarat itu. Rangga berusaha mengangkat tangannya yang terhubung dengan selang infuse itu. Tampak sebuah cincin pertunangan itu masih melekat erat di jemarinya.

Rangga tersenyum menahan sakit yang entah seperti apa rasanya itu. Kemudian ia kembali tertidur, mengistirahatkan tubuhnya selamanya.

Dila kembali tak sadarkan diri, begitu juga dengan kelurganya dan keluarga calon suaminya itu.

Pertama dalam hidup Dilla, kisah cinta yang telah ia kuatkan selama empat tahun itu harus terurai juga di saat hari bahagianya yang baru akan di bangun.

Di jembatan gantung batas kota mereka berdua, disitulah akhir cinta menutup lembarannya. Dengan saksi-saksi yang suci cinta abadi hanyalah milik Allah di Surga…..***.

Selengkapnya...

Label: 2 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May

CERMIN

DI ILHAMI DARI KISAH NYATA

Oleh : NUR CH. TITIM


D

ua tahun sudah lamanya setelah aku lulus dari pendidikan terakhirku SMA. Sejak saat itu aku tidak lagi pernah pulang kerumahku. Aku membebaskan diriku menghirup udara yang luas dibelatara kehidupan ini meskipun sebelumnya tidak ada orang yang mengekangku. Kehidupan perkampungan yang teduh terkadang membuatku teramat rindu. Keluarga dan semuanya, terlebih lagi pada ibuku entah kapan terakhir kali aku melihatnya.

Dua tahun juga lamanya aku tak lagi mengirimkan pesan-pesan kerinduanku berupa do’a-do’a dan bunga-bunga segar dimakam ayahku dan Rangga kekasihku. Waktu kerap kali memaksaku untuk berontak, setelah kepergian ibu yang entah kemana itu, lantas Ayah yang meninggalkanku karena penyakit kanker paru-parunya. Sungguh tak pernah aku duga sebelumnya jika orang-orang yang aku sayangi harus lepas dari kehidupanku.

Penderitaanku semakin genap ketika Rangga kekasihku juga meninggal dunia. Saat setelah pesta miras dengan teman-temannya, tidak jarang pula aku diajaknya ke acara tersebut sampai aku tak sadarkan diri (mabuk), setidaknya itu yang bisa membuatku lebih tenang tanpa merasa terbebani kehidupan yang sesungguhnya suram.

Sore itu, setelah mengantarkan aku di tempat kost lantas Rangga berlalu meninggalkan senyumnya yang manis itu, dari tempat kost. Tiba-tiba sepeda motor yang ia kendarai terpeleset di jalan raya karena hujan yang turun saat itu sangat deras. Kemudian menabrak sebuah mobil Kijang dari arah yang berlawanan. Pengemudi mobil dan Rangga tidak dapat diselamatkan mereka terkapar digersangnya jalan raya dengan darah-darah segar yang mengalir, mewarnai jalanan umum itu tanpa batas arah.

Seperti tidak percaya, jika ini adalah kali terakhir aku mendapati senyumnya yang selalu membawaku dalam keteduhan jiwa yang utuh. Menyayangiku dengan segenap cinta yang tulus dan mendengarkan lagu-lagu hatiku dengan segala kekurangan dan ketidak berdayaanku. Aku ingin berontak, di pemakaman bahkan aku tidak tega melihat tubuhnya yang mulai tak kentara terpendam oleh tanah-tanah duniawi yang kecoklatan dengan seribu makna. Kini dia telah kembali kepangkuan Illahi, meninggalkan kenangan kisah cinta yang tulus.

Kerasnya kehidupan jalanan dan berbahaya sepetinya sudah kental dengan kehidupanku yang penuh dengan kebebasan ini. Bak seorang penguasa, kunikmati panjangnya waktu ini dengan semua yang membuatku senang. Dengan semua yang teramat pahit juga. Beberapa saudara dan keluarga berusaha mencariku dengan seribu ketulusan mereka ingin menyelamatkan diriku dari keterpurukan dunia yang sekarang aku jalani. Tapi aku tetaplah aku yang sudah terlanjur keras dan kaku menyikapi lembutnya perhatian mereka.

Kini aku hidup bebas dibalai-balai kota orang, di sebuah tempat yang asing. Aku berdiri santun ditengah-tengah kehidupan kota yang serba sulit, dikemerlapnya malam yang selalu menjanjikan kenikmatan meski hanya sesaat. Dengan menjadi seorang wanita penghibur, kurelakan diri ini dinikmati oleh mereka-mereka para penikmat surga-surga cinta demi kesenanganku dan mereka juga. Kadang sebagai pelampiasan kekesalan mereka. Hanya untuk menyambung kehidupan.

Meskipun terkadang aku menyesal telah membiarkan ketidak berdayaanku menjadi semakin tidak berguna bagi diriku sendiri dan dimanfaatkan orang lain. Bersama taburan lampu-lampu kota malam hari yang selalu memanjaku,hembusan angin yang seakan meberikan isyarat-isyarat kepadaku, senyuman bulan yang malu atau entah benci melihatku, aku bahkan tak pernah pedulikan itu. Karena aku sudah terlanjur jatuh didekapan cinta yang penuh dengan kelembutan itu bersama mereka.

Hari-hari aku lewati seperti aku tak pernah melakukan suatu kesalahanpun sebagai seorang wanita. Yang seharusnya bisa menjaga rahasia tubuh sebelum benar-benar jatuh di dekapan laki-laki yang syah (suami) kelak. Sebagai seorang wanita, yang entah masih pantas disebut apa tidak.

Malam ini kurasakan demam ditubuhku, setelah meminum obat aku berusaha untuk beristirahat. Aku duduk di depan meja rias dikamarku, sebuah kamar kost yang tidak begitu besar tapi cukup luas untukku memikirkan kembali kehidupanku yang tidak penah menemui jalan lurus itu. Ku ambil sebuah kenangan dari dalam tas kulitku, disebuah dompet kecil warna hitam, ku ambil dua lembar foto yang terpisah. Foto ayahku dan foto Rangga.

Seketika aku menangis, air mataku mengalir tak terhentikan lagi. Aku bersedih karena telah menghianati kepercayaan mereka. Aku terisak-isak menatapi diriku dicermin yang sudah tidak sesuci dulu.

“Ayah, Winda kangen sama ayah, Winda minta maaf ayah tentang perbuatan Winda selama ini, Tapi, kenapa ayah tega ninggalin Winda sendirian? Kenapa ayah? Kenapa?, Winda sendirian ayah, Winda tidak punya siapa-siapa lagi. ” kudekap selembar foto itu, berharap ayah akan datang membawa senyumnya untukku, meskipun itu sudah tidak mungkin lagi.

Kemudian foto Rangga yang tampan itu membuatku semakin bersalah karena aku telah menghianati kepercayaan cintanya. Tapi jujur dalam hati masih ada ketulusan cintaku untuknya.

Lantas aku teringat sepotret wajah nan ayu. Kupandangi fotonya yang mirip denganku itu nan tersenyum, aku melihat kecermin lagi. Begitu cantik diriku, aku bahagia memuji diriku sendiri. Tak sedikitpun berbeda dengannya. Tubuh sempai, dengan rambut yang hitam,panjang dan lurus yang selalu kubiarkan terurai terbawa angin, serta bola mata yang hitam dan senyum tipis yang manis. Aku kembali tersenyum sendiri.

Tapi, biar bagaimanapun juga kau tetap ibuku, kau tetaplah cermin kehidupanku, aku mencium fotonya dengan segala kerinduanku yang terpendam selama ini, meskipun………,

“Tidak, aku benci sama dia….”

“Aku tak ingin melihatnya lagi”

“Aku benci…. Dia, aku benci, aku kembali terisak-isak mengingat hal itu”

Emosiku mengeras mengingatnya lagi, sebuah kenyataan pahit yang dia lakukan pada aku dan keluargaku. Perselingkuhannya dengan seorang duda kaya itu, yang membuatku tidak terima sampai saat ini.

Apalagi, setelah kejadian itu dia tidak lagi pernah mengunjungiku sebagai seorang ibu. 14 tahun sudah lamanya, aku tak pernah mendapatkan perhatian dari seorang ibu. Tak pernah lagi datang untuk mendidikku sebagai seorang anak yang masih haus dengan kasih sayang. Aku benci dia, aku benci……

Dengan penuh kebencian malam itu, aku berlari kembali ketempat dimana aku selalu bisa mendapatkan kesenangan. Kuteguk kenikmatan-kenikmatan dari mereka pemburu cinta yang sudah menantiku dengan segala kerinduannya. Karena sebuah cermin yang indah, yang sesungguhnya retak. Aku kembali dalam gelapnya malam yang menjanjikan kenikmatan, meski hanya sesaat.

*** Tamat ***

Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post
Teteh Titiem Si May

KISAH TERAKHIR TEMANKU

SELAMAT JALAN MEY

Di Ilhami dari Kisah Nyata

S

eperti hari-hari biasanya, siang ini cuaca panas. Ditempat kerjaku sedang pamadaman . jadi deh file-file yang baru saja aku ketik sekitar 2 lembar itu hilang soalnya belum sempat aku simpan. Sendiri dalam ruangan yang sepi ini, membuatku bebas berekspresi. Tak terasa jari-jariku sudah berhasil mengumpulkan enam lembar tulisa. Mengarang bebas, bukan itu hanya sebuah hobi saja.

Suara sepeda motor Mega Pro itu tiba-tiba membuyarkan imajinasiku tapi aku berusaha tidak melihat kearah datangnya suara sepeda motor itu yang berhenti di depan warnetku. Ternyata benar dugaanku, dia cowok yang sama seperti kemarin namanya Yahya. Kali ini dia lebih rapi dengan seragam dinesnya. Hari ini memang bukan suatu kebetulan, tadi pagi dia sudah mengirimkan sebuah pesan SMS padaku, jika dia nanti akan mampir ke tempat kerjaku mengantarkan pesananku yang kemarin. 1 Rim HVS APS 70 F4, dan 2 Pak Bufallo warna Biru dan Merah Muda.

Sesuai kesepakatan aku menandatangani nota yang di berikannya padaku. Lantas aku mempersilahkan dia duduk karena dari tadi dia berdiri di depanku. Aku dan dia kembali berbincang-bincang meskipun aku masih sedikit canggung padanya tapi aku masih tetap berusaha memberikan senyum terindahku padanya. Sampai akhirnya dia pamit pulang (melanjutkan kerjanya disebuah Bank terkemuka di daerahku). Sembari melambaikan tangannya dia berlalu melawan bulir-bulir terik matahari yang mulai terasa menyengat semakin jauh hingga tak terlihat lagi.

Mengunggu adalah suatu hal yang sangat membosankan, ya memang benar. Apalagi menunggu listrikmenyala sedangkan pengetikan masih banyak yang belum terselesaikan. Benar-benar membuat jengkel tapi aku berusaha untuk lebih tenang dan sabar.

Ku lanjutkan lagi menulisku dengan gaya penulisan yang ala kadarnya ini dengan sejuta ekspresi yang siap untuk ku tuangkan melalui goresan-goresan yang sederhana. Sambil menunggu petugas PLN selesai membetulkan kerusakan listrik.

Entah kapan dan dari mana datangnya tiba-tiba dua sosok laki-laki ini sudah berada di depanku, tepatnya di depan monitorku




“Hai tethe…. Serius banget” sapa salah seorang diantaranya.

Aku yang dari tadi asyik menulis jadi benar-benar kaget dan tidak percaya. Aku balas menyapa mereka dengan senyuman.

Nglamun aja, sapa teman satunya. Sambil menepuk pipiku. Mereka adalah Yudistira dan Komang cowok ganteng teman SMA ku dulu. Hampir setahun lamanya aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Senang sekali rasanya hari ini bisa bertemu dengan mereka yang memiliki segudang banyolan yang kocak yang membuatku bias tertawa ngakak. Sesekali kita melepas kerinduan kita dengan senyum-senyum terhangat yang kita miliki.

Kehadirannya itu membuatku tak ingin mereka meninggalkan tempat kerjaku yang sepi ini. Tapi aku tak bias menolak, karena kerabat Komang ada yang meninggal Dunia. Jadi dia harus mengantarkan orang tuanya di rumah duka saudaranya.

Sebelum mereka pulang, mereka membawakan aku sebuah berita duka, dari Mey temen SMA ku dulu, yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya pada hari kamis tanggal 26 Maret 2009 kemarin. Awalnya aku tidak percaya tapi kedua temanku itu manyakinkan dengan sangat.

Air mataku tak bisa mengalir, karena aku dengan Mey memang belum pernah akrab. Waktu sekolah dulu kita sering bertemu karena tempat kost dia di depan rumahku. Jarak rumah yang dekat itulah kadang mengundang kita untuk sekedar ngobrol ringan kadang juga sekedar main Bad Minton sore hari di depan rumahku itu pun bersama teman-teman kost yang lain.

Mey, seorang gadis cantik yang memendam seribu rahasia. Sikapnya yang polos itu kadang sering membuat orang tidak percaya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Dia yang jarang pulang ke kosan itu kerap kali membuat ibu kost menjadi geram, selalu pulang pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dengan alasan pulang kerumahnya. Padahal dari keluarganya sendiri sering bilang ke ibu kost, kalau dia itu selalu ada dikosan. Entah apa sesungguhnya yang terjadi.

Setiap setelah pulang sekolah, dia selalu dijemput oleh seorang laki-laki dengan helm teropong dan sepeda motor satrianya. Entah siapa orang itu sesungguhnya, tetangga dan teman-temannya selalu menaruh curga termasuk aku juga.

Cibiran dari masyarakat dan teman-teman se-sekolahan, mereka sering melihat mei menginap dirumah laki-lak itu (yang katanya sudah memiliki istri dan instrinya sekarang sedang berada di Luar Negeri mencari kehidupan yang lebih baik buat keluarganya). Selalu dating ke kosan pagi hari lantas berangkat kesekolah. Begitulah hari-hari dia lewati.

Gadis cantik yang penuh dengan daya tarik ini, dia sangat baik padaku. Kepolosannya itu sering juga membuatku tak percaya dengan dirinya yang sesungguhnya, dengan apa yang dia lakukan selama ini. Tapi ini benar-benat terjadi dibalik keluguan dan ayunya, entah misteri apa yang terjadi (itu adalah rahasia pribadinya).

Tepat pada hari kamis kemarin, di daerah tempat tinggalnya digegerkan dengan berita duka kematiannya. Setelah kedatangannya dari pulau seribu pura untuk mengadu nasibnya. Dia sakit, lantas dijemput oleh Pacarnya, yang mengherankan lagi dia meninggal didaerah pacarnya itu karena Over Dosis, Entah itu benar over dosis atau keracunan, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan busa. Setelah melewati tahap otopsi, tidak ditemukan luka akibat kekerasan namun, dokter tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kejadian ini sangat memukul pihak keluarganya, kerabat-kerabat, teman terdekatnya bahkan aku yang sempat mengenalinya meski tidak pernah akrab. Mereka tidak percaya dengan meninggalnya Mey yang mendadak itu.

Sebagai teman yang pernah kenal dengan dia, aku hanya bias berdo’a semoga Allah SWT senantiasa menerima kepergianmu, Membukakan pintu maaf bagimu kawan, semoga kau diberikan tempat yang terbaik disisinya dan juga semoga keluarga selalu diberikan ketabahan hati serta keikhlasan dan kekuatan agar selalu bias mendo’akanmu kawan.

Selamat jalan kawan, semoga kau tenang disinya dan mendapatkan tempat terindah yang ia janjikan kepada umatnya. Amien.

Selengkapnya...

Label: 0 komentar | | edit post