Teteh Titiem Si May

CERPEN 6

JEMBATAN DAN BATAS CINTA

Malam ini mendung menerawang dibelahan kotaku, dibalik tirai jendela kamar ini ku intip cahaya penguasa malam yang menerobos melalui celah-celah jendela kamarku. Nampaknya bulan kian malu-malu, bersembunyi di balik dahan-dahan gelap dengan cahayanya yang temaram.

Langit tenang, tapi berbeda dengan hatiku yang sedari tadi berdebar karena bahagia, ku coba untuk memejamkan mata tapi sial sebab rasa senang malam ini tidak lagi dapat ku bendung. Ku bayagkan suasana besok pagi.

Ku coba mengangkat ganggang hand phone ku, untuk menghubungi kekasihku yang besok pagi tepat pukul delapan akan mengikrarkan sumpah cintanya padaku, pada acara pernikahanku besok dengannya. Tapi ku urungkan, aku tetap mencoba bersabar, meskipun aku sudah merasa tidak sabar ingin bertemu dengannya.

“Rangga saying, aku tak bisa membayangkan bagaimana keceriaan setelah ini, tak bisa memikirkan bagaimana dirimu besok pagi ketika mengucapkan ijab qabul. ” Pekik Dilla di kamarnya yang sedari tadi matanya belum bisa ia pejamkan karena terlalu bahagia.

Dilembar hati yang lain, tampak Rangga juga sedang membayangkan Dilla kekasih hati yang telah dipacarinya selama 4 tahun lamanya itu. Yang besok pagi akan resmi menjadi istrinya itu.

“Betapa cantiknya dirimu, Dilla…”

“malam ini aku adalah orang yang terbahagia, ” tunggulah aku Dilla, besok pagi diperbatasan kota dan jembatan cinta aku akan datang untukmu, kubawakan ketulusan cintaku dan kubuktikan pada dunia tentang janjiku Dilla.

Sembari mempersiapkan detakan jantung yang akan dia luaskan besok pagi di Masjid Agung tempat cinta mereka akan di rajut, bersama embun pagi dan cahya mentari nan mesra.

Rangga berusaha memejamkan mata semampunya ditemani petikan khas suara jangkrik dan katak-katak disawah yang saling bersahutan, serta cahaya bulan yang tampak sabit kemerahan di tutup mendung tipis tanpa senyum mesra seperti biasanya.

“Astagfirullah hal adzim…,” sontak Dilla terbangun dari tidurnya, di sebuah kursi tempat ia melamun tadi. Karena bermimpi yang sangat aneh.

Dalam tidurnya itu, Dilla bermimpi tentang penikahannya. Dia mengenakan mukena dan membawa Al-Qur’an bersama dengan keluarganya dan penghulu yang akan menikahkannya., menjemput rangga yang sedang mandi di sebuah pantai di sebuah pantai. Lantasrangga mengikuti dilla dan kelurganya ke sebuah tempat yang samar. Dan acara pernikahan itu berlangsung sampai ijab qabul.

Setelah akad nikah berlangsung, keadaan di rumah tempat nikah dilla dan Rangga tampak sepi bahkan lebih sepi seperti setelah acara selamatan kematian.

Kemudian malam masih dalam mimpi, Dilla tidak menjumpai Rangga. Dia berusaha mencari rangga tapi tetap tidak ditemukannya. Padahal Dilla ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja dia lihat dilangit. Gambaran bumi yang terbelah menjadi dua bagian, sedang bagian sebelah kiri tertuliskan asma Allah. Suatu mimpi yang sangat aneh.

Lantas dilla terbangun, jam dinding di kamarnya masih menunjukkan pukul 02.00 malam. Dilla bergegas bagun, dilihat sekeliling masih ramai orang-orang yang mempersiapkan segala sesuatu, dan sebagian lagi asyik bermain kartu. Dilla segera mengambil air wudlu dan dia melaksanakan sholat tahajjud. Dia meminta pada Allah, semoga dalam mimpinya tersebut tidak mempengaruhi jalannya prosesi pernikahannya dengan rangga besok pagi. Semogaitu hanyalah sebuah mimpi saja dan tidak terjadi akibat suatu apapun. Setelah melaksanakan sholat sunnah tanpa bercerita kepada ibu ataupun saudaranya dia kembali merebahkan tubuhnya dilenturnya ranjang kamar.

Pagi tampak wangi di kamar pengantin, dimana Dilla dandani layaknya seorang puteri raja. Dengan pakaian adapt yang akan dia kenakan saat akad nikah berlangsung nanti. Dengan berbalutkan kebaya warna putih dia nampak cantik sekali, rambutnya disanggul ala puteri solo dengan tusuk-tusuk bunga yang menghiasi kepalanya nampak megah nan rupawan.

Jam dikamar menunjukkan pukul 07.34 masih teramat pagi, tapi itu adalah wakktu yang sangat mendebarkan bagi Dilla, karena 15 menit lagi Rangga dan kelurganya akan datang di tempat akad nikha berlangsung.

Di dapur, tampak sobuk ibu-ibu mempersiapkan ini itu untuk tamu-tamu undangan. Dengan sedikit candanya yang kocak dank has mereka tertawa renyah.

Tiba-tiba….Prraaakkk….

Suara yang keras dan mengagetkan itu berasal dari dapur,. Tumpukan gelas-gelas dan piring-piring yang sudah berisi makanan itu terjatuh dan pecah. Ada sebagian yang masih utuh segera di rapikan lagi.

Orang-orang dan para tamu undangan merasa kaget dan menduga-duga. Firasat apa ini ? Tanya seorang tua di dapur itu. Tapi mereka tetap sabar dan berusaha hati-hati.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi belum di dapati senyum manis rombongan mempelai laki-laki di tempat akad nikah. Dilla yang masih berada dalam kamarnya menjadi khawatir. Di ambil hand phonennya, lantas dihunginya rangga calon suaminya. Karena penghulu sudah menunggu. Hand phonennya aktif tapi tak ada jawaban sama sekali.

Kecemasan, juga dirasakan oleh keluarga dilla, mereka berdo’a semoga tidak terjadi sesuatu dengan Rangga.

Waktu masih tetap menjalankan langkahnya, dan sudah menunjukkan pukul 08.25 tapi dari pihak mempelai laki-laki belum juga menampakkan kedatangannya.

Tiba-tiba, ada seorang laki-laki paruh baya mendatangi acara pernikahan tersebut. Dia berlari dengan gugup dan bercerita sesuatu yang sangat mengagetkan dan membuat tidak percaya.

“Seluruh rombongan dari mempelai laki-laki mengalami kecelakaan. Jembatan Gantung pemisah batas kota mereka terputus. Akibatnya seluruh romongan itu terjatuh disungai, sekarang semua korban di larikan di Rumah Sakit”.

Mengetahui hal tersebut Dilla menangis histeris, lantas tak sadarkan diri. Kondisi Dilla juga lemah karena dia juga masih dalam keadaan puasa. Dilla kemudian dilarikan ke Rumah Sakit dimana Rangga juga mengapatkan perawatan.

Tidak pernah di duga sebelumnya, tubuh rangga yang lemah itu terbalutkan dengan alat-alat medis Rumah Sakit. Karena kondisinya yang sangat parah. Rangga mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya yang terhantam batu padas kali dan sempat terseret air sungai sejauh 200 meter. Sedangkan korban lainnya adalah dua sepupunya dan saudaranya yang baru datang dari luar kota itu meninggal dunia.

Setelah sadarkan diri, masih dengan kebaya putihnya dilla berlari mendatangi Ruangan ICU. Tak tega melihat kondisi calon suaminya yang terbaring kaku tanpa kekuatan itu. Di peluk dan di ciuminya kekasihnya itu, tak ingin lepaskan rangga.

Tidak…….. sambil menangis dilla menghampiri Tubuh rangga.

“Rangga, cepat bangun sayang.. ini aku Dilla.

“ Ini hari bahagia kita sayang”.

Jangan tinggalkan aku sayang, nada suara Dilla semakin melemah di raihnya tangan rangga yang sudah kaku itu, digerak-gerakkan badan Rangga.

Rangga, cepat bangun sayang, bangun rangga… bangun sekarang…

Rangga membukakan matanya mengisyaratkan sesuatu, tapi Dilla tidak bisa menebak isyarat itu. Rangga berusaha mengangkat tangannya yang terhubung dengan selang infuse itu. Tampak sebuah cincin pertunangan itu masih melekat erat di jemarinya.

Rangga tersenyum menahan sakit yang entah seperti apa rasanya itu. Kemudian ia kembali tertidur, mengistirahatkan tubuhnya selamanya.

Dila kembali tak sadarkan diri, begitu juga dengan kelurganya dan keluarga calon suaminya itu.

Pertama dalam hidup Dilla, kisah cinta yang telah ia kuatkan selama empat tahun itu harus terurai juga di saat hari bahagianya yang baru akan di bangun.

Di jembatan gantung batas kota mereka berdua, disitulah akhir cinta menutup lembarannya. Dengan saksi-saksi yang suci cinta abadi hanyalah milik Allah di Surga…..***.

Label: | edit post
4 Responses
  1. halo chotim nieh cewek yang disebelah q mau ke jembatan batas cinta





Posting Komentar